Jumat, 29 November 2024

IKAN NAE DI PANTE FOKBI Senam Bersama SDN 057 Bina Harapan

 


Kejakimpolnews.com – Sedikitnya 200 siswa Sekolah Dasar Negeri  (SDN) 057 Bina Harapan ikuti senam Ikan Nae Di Pante bersama dengan dua orang instruktur handal dari Federasi Olahraga Kreasi Budaya Indonesia( FokbiKota Bandung belum lama ini.

Kedua innstruktur masing masing Entin Supartini dan Juve Aerobik, selama satu jam penuh mengajak semua siswa untuk mengikuti Gerakan Gerakan yang diperuntukkan anak anak sekolah, termasuk beberapa guru turut serta melakukan senam Bersama bergembira dari daerah Nusata Tenggara Timur.



Menurut Ketua Fokbi Kota Bandung Heru, kegiatan olahraga senam Bersama dilaksanakan kepada beberapa sekolah dasar, sekolah menengah sampai sekolah menengah atas.

Hal itu merupakan kegiatan rutin semua jajaran Fokbi Kota Bandung guna terus melakukan sosialisasi organisasi memperkenalkan olahraga senam kreasi baru dari daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun tidak terbatas seni budaya satu daerah, Fokbi sudah menguasa berbagai seni daerah lainnya untuk terus memupuk serta memasyarakatkan olahraga senam. Dengan tujuan menerapkan rasa cinta terhadap kearifan budaya local, baik di daerah timur maupun Tengah dan daerah lainnya.

Dijelaskan juga oleh Heru, bahwa menanamkan rasa cinta terhadap budaya local yang tersebar di seluruh Indonesia, akan membantu juga rasa cinta kebersamaan antar suku di daerah daerah. Juga disamping menanamkan rasa cinta sekaligus mengembangkan seni budaya kearifan menjadi olahraga senam kreasi.

Sementara itu, para guru sangat menyambut dengan baik adanya organisasi yang mampu dan mau terlibat menyumbangkan tenaganya kepada para siswa dengan mengajak olahraga sekaligus memberikan pengetahuan tentang budaya local dengan cara gerak dan lagu.

Sonni Hadi

Jumat, 22 November 2024

Toko reparasi Kompor Gas Meledak Hancurkan Atap Bangunan

 

 Cimindi, Majalahmahardika,- Toko servis kompor gas,meledak hancurkan atap bangunan serta melemparkan gerbang pintu toko ke badan jalan. Kejadian ledakan yang cukup keras mengagetkan warga setempat serta para pengguna jalan Raya Cimindi tepat di bawah jembatan layang hanya beberapa meter dari pintu lintasan kereta api Cimindi. (21/11)
Menurut keterangan anggota Linmas RW 10 RT 2 Jl Amir Mahmud terusan Jl Gunung Bantu bernama Wahidin,kejadiannya sekitar pukul 08.00 wib. 

Saat itu terdengar ledakan sangat keras menyebabkan gerbang depan hancur dan atap rumah berterbangan. Semua peralatan berantakan terlempar keluar dan banyak berserekan di badan jalan. 
Tidak ada yang tahu asal muasal ledakan, hanya toko yang dikontrakan itu dipergunakan oleh pengontraknya tempat servis kompor gas. 
Saat ledakan terjadi, suami istri yang mendiami tempat itu masih berada di dalam toko dan toko belum dibuka. Suami yang sedang sibuk membersihkan ruangan tempat servis dan istri sedang mandi. Tiba tiba ada ledakan keduanya lari ke luar toko, istri yang belum jelas diketahui namanya selamat karena keburu lari keluar setelah melihat atap bangunan akan runtuh, sedangkan suaminya mengalami luka dibagian tangannya.Tempat kejadian sudah dipasang pita garis polisi, keduanya sedang dimintai keterangan di Polres Cimahi.
ijelaskan juga oleh anggota Linmas RW 10, tidak benar ada korban jiwa. Karena suami istri itu masih sempat keluar ruangan.
Untungnya ketika ledakan dan melemparkan gerbang toko, di lokasi tidak ada kendaraan yang lewat, padahal jalan tersebut setiap saat selalu dipadati berbagai jenis kendaraan, karena tepat di tikungan serta dekat sekali dengan pintu lintasan kereta api Cimindi, tambahnya.
 Yopi

Rabu, 20 November 2024

Monju di depan cantik di belakang berserakan sampah karena jadi lahan parkir liar

 Bandung, Majalahmahardika.- Kawasan monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju), kini dijadikan tempat parkir liar. Akibatnya pelataran jalan di dalamnya, berubah lagi menjadi kumuh, berserakan sampah bekas makanan.


Apabila hal ini tidak ditertibkan oleh pihak monument, khususnya yang membawahi kawasan monumen perjuangan ini yaitu Provisi Jabar. Tidak menutup kemungkinan akan segera "hancur" dengan hilangnya beberapa fasilitas atau rusaknya fasilitas yang sudah diperbaharui.

Hampir 3 bulan lalu, bagian belakang tugu monument sekelilingnya banyak sampah berserakan, tidak seorang pun yang berusaha untuk membersihkan. Apalagi batas benteng monumen dengan pasar/pkl haurpancuh kini dijadikan penyimpanan barang milik pedagang, makin kumur terlihat jelas.


Dalam kurun waktu sebulan ini ratusan bus masuk untuk parkir di halaman tugu, dengan membayar parkir antara Rp25.000 sampai Rp50.000, padahal pihak keamanan/satpam monumen yang pos jaganya hanya beberapa meter, mengaku tidak menerima uang parkir yang konon dikelola oleh orang luar dan oknum.


Darimana bus parawisata itu berdatangan? ternyata bus bus yang jumlahnya tidak sedikit itu, para penumpangnya yang berkunjung ke Geologi Jl Dipenogoro. Karena di badan jalan ini dilarang untuk parkir akhirnya diarahkan oleh orang yang tidak diketahui asal dari mana. Jelasnya tidak mungkin diijinkan untuk parkir di monument, apabila tidak ada oknum yang berbagi hasil. Jelasnya tidak masuk kepada pendapatan daerah asli.

Selain sampah sampah sisa makanan para awak bus dan pendatang juga sampah sisa para pedagang kaki lima yang setiap minggu menjajakan dagangannya, berserakan tidak ada yang membersihkan. Padahal menurut beberapa pedagang, uang retribusi liar untuk sampah dan uang keamanan sudah dikutip oleh para pengutip "Preman-preman".

Taman monumen yang baru saja selesai tahap perbaikan menjadi taman bermain anak anak tanpa dipungut tiket alias gratis, kini keadaannya sudah mulai memprihatinkan. Seperti rumpur sintetis mulai ada yang copot, beberapa lamu sudah tidak menyala. Seolah tidak dirawat dengan baik.

Padahal dana yang dikeluarkan provinsi tidak kurang dari 50 miliar, untuk mempercantik beberapa taman yang ada di monument.


Setelah selesai satu tahun lalu, lahan lahan tersebut diperebutkan oleh para pedagang dan muncullah komunitas para pedagang yang didalamnya ada beberapa oknum oknum.

Mulai dari lapak tempat berdagang, sampai kepada lapak parkir diperebutkan. Mereka datang dari luar daerah, sedangkan warga yang tidak jauh dari lingkungan monument atau karang taruna RW RW sekitarnya jarang yang turut ambil bagian.

 Diperparah oleh munculnya preman preman, berebut ingin mengelola dan mendapat jatah uang keamanan. Karena tergiur oleh nilai uang yang tidak sedikit, bisa dibayangkan 1000 PKL dikutip antara 2000 sampai 10000 cukup menggiurkan, belum uang kebersihan dipungut lagi secara terpisah.

Kemana larinya uang tersebut? ternyata dibagi bagi dengan para oknum aparat. Kalau tidak dibagi, niscaya tidak bisa berdagang di tempat itu.


ikl tengah

hiburan selendang merah saja